• Majalah SCG
  • Majalah SCG
Destinasi Wisata / Sabtu, 09/05/2015 12:40 WIB
Makam Taman Bungkul

Para peziarah meyakininya sebagai wali, tapi kisah sang Sunan Bungkul terlalu minim untuk ditelusuri. Mbah Bungkul yang makamnya berada di komplek Taman Bungkul menyimpan misteri kesejarahan yang tak mudah diungkap.

Sebuah hikayat menyebutkan Mbah Bungkul atau Sunan Bungkul adalah Empu Supa, seorang tokoh masyarakat dan agama pada masa kerajaan Majapahit di abad 15. Ia adalah tetua desa Bungkul, yang sekitar 600 tahun silam pernah disinggahi Raden Rahmat atau Sunan Ampel kala menempuh perjalanan dari Trowulan Majapahit menuju Kalimas di Ampel Denta.

Ki Supa kemudian memeluk agama Islam dan berganti julukan menjadi Ki Ageng Mahmudin. Sebab menghuni desa Bungkul, Ki Supa akhirnya lebih dikenal dengan Sunan Bungkul. Ikatan kedua sunan itu pun berlanjut hingga kemudian Sunan Bungkul menjadi mertua Raden Rahmat. Ikatan itu pula, Sunan Ampel menyebarkan agama Islam menjadi lebih cepat berkembang, terutama di wilayah Surabaya Selatan.

Mbah Bungkul pun kini diyakini sebagai salah satu wali besar di Surabaya. Peziarah yang berkunjung ke makam Ampel pasti akan berkunjung pula ke komplek makam yang berada di Jalan Progo ini.

Keberadaan Mbah Bungkul sejajar dengan Syeh Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Geseng (Magelang), Sunan Tembayat (Klaten), Ki Ageng Gribig (Klaten), Sunan Panggung (Tegal), Sunan Prapen (Gresik), dan wali lokal lainnya yang banyak tersebar di berbagai kota.

The pilgrims believe that Sunan Bungkul is a guardian, but the story of the Sunan Bungkulis too minimal to be traced. However, his tombthat is located in the complex of Taman Bungkulsaves uneasily revealed historical mystery.

There is a saga that mentions that Mbah Bungkul, or Sunan Bungkul, was also Empu Supa, a communityand religious leaders in Majapahit kingdom in the15th century. He is the elder of Bungkul village,which was ever visited by Raden Rahmat or Sunan Ampel, around 600 years ago, when he was traveling from Trowulan Majapahit towards Kalimas in Ampel Denta.

Ki Supa later converted to Islam and changed his nickname to Ki Ageng Mahmudin. Because he lived in Bungkul village, Ki Supa was better known as Sunan Bungkul. Their relationship grew stronger as Sunan Bungkul was later becoming Raden Rahmat’s father in law. This relationship became one of the reasons why Islam was spread faster in Southern Surabaya than in other regions.

Mbah Bungkul is now believed to be one of the guardians in Surabaya. Pilgrims who visit the Ampel tomb will definitely visit this tomb complex which is located in Progo Street

Mbah Bungkul’s existence can be placed equal to Sheikh Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Geseng (Magelang), Sunan Tembayat (Klaten), Ki Ageng Gribig (Klaten), Sunan Stage (Tegal), Sunan Prapen (Gresik), and other local guardians around of different cities.

 

Makam Sunan Bungkul
Jl. Taman Bungkul, Surabaya

kirim komentar