• Majalah SCG
Ternyata / Selasa, 21/01/2014 11:59 WIB
Gedung Setan, Rumah Penampungan

Gedung Setan masih berdiri seperti aslinya. Gedung yang terletak di Kampung Banyu Urip Wetan IA No 107, Surabaya, ini kondisinya sudah tua, warnanya putih kusam, dan kurang terawat. Beberapa bagian gedung malah tampak mengkhawatirkan.

Padahal, gedung dua lantai seluas 400 meter persegi ini dihuni oleh 40 kepala keluarga atau sekitar 150 jiwa. Mereka tinggal di gedung, yang konon
milik pengusaha kaya bernama Teng Kun Gwan, ini sudah turun-temurun sejak Agresi Militer Belanda II tahun 1948. Kebanyakan mereka dari etnis Tionghoa, sebagian lainnya keturunan Tionghoa-Jawa.

Di gedung ini, para penghuni membagi ruang dengan cara memberi sekat-sekat. Sebab keterbatasan, malah ada ruang-ruang yang bersifat multifungsi. Beberapa kamar dari penghuni pun terlihat sederhana. Ada satu ruang di lantai dua yang digunakan sebagai tempat ibadah warga, yaitu Gereja Pantekosta.
Konon, dari cerita tutur, gedung ini pernah dihuni ratusan burung walet. Agar sarang burung walet aman dan tidak dijarah, gedung ini lantas diberi label
menyeramkan:

Gedung Setan. Selain itu, gedung ini pernah menjadi kompleks persemayaman warga Tionghoa, dan letaknya berada dalam satu kompleks dengan pemakaman Cina. Bahkan, Setelah peristiwa G 30 S PKI melanda tanah air, Gedung Setan ini menjadi tempat bong-bong Cina dan lama-kelamaan berubah menjadi perkampungan dan rumah-rumah penduduk.

Sampai saat ini para penghuni awal dan keturunannya masih terus menempati gedung ini. Di luar itu, cerita menarik diungkap oleh Sastro Hadi Utomo (narasumber Majalah SCG ketika itu), salah satu penghuni di lingkungan gedung setan sejak ia berusia 11 tahun. Katanya, pada waktu Agresi Militer Belanda II banyak warga etnis Tionghoa yang diterima dan ditampung oleh Cung Hwa Cung Hwe, sebuah perkumpulan warga Tionghoa yang eksis kala itu.

Seusai Agresi Militer Belanda, warga Tionghoa yang tinggal di gedung ini pun dibebaskan. Tapi kebanyakan mereka tinggal di situ secara turun-temurun
hingga kini. Bahkan, Teng Kun Gwan, pemilik gedung yang tinggal di Jl. Mayjen Jend. Haryono 42 (Bebek) Malang, memilih dan memberi mandat kepada Hadi Utomo melalui surat kuasa resmi untuk mengelola dan merawat gedung.

Pernah dua orang yang mengaku keturunan Teng Kun Gwan mendatangi Hadi untuk memastikan keabsahan surat kuasa itu, dan mereka menyatakan kebenarannya. Bagaimanapun, Gedung Setan telah menjadi cagar budaya. Karena itu, harapannya, ada perhatian dari berbagai pihak agar tidak semakin merana dan rusak. (Doc. Majalah Surabaya City Guide, edisi Sept-Okt 2009)

kirim komentar