• Majalah SCG
Kelana Kota / Selasa, 14/05/2013 11:27 WIB
Memupuk Hard Skill dan Soft Skill

Hard skill dan soft skill adalah sebuah kompetensi. Karena sebuah kompetensi maka harus dikerjakan. Kompetensi asal muasalnya dari potensi. Potensi itu sesuatu yang sudah ada dalam diri setiap kita. Tapi belum terbentuk. Kapan potensi itu muncul dan berfungsi baik, kalau kita mengerjakan atau melakukannya. Dari situ akan menjadi kompetensi.

Seorang ahli pendidikan, Cessie, pernah mengatakan kompetensi itu adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup 3 hal. Pertama, knowledge (pengetahuan). Kedua, skill (keterampilan, dan ketiga, attitude (perilaku). Untuk dapat melaksanakan pekerjaan, minimal tiga hal ini harus dimiliki. Pendapat ini juga senada dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Ke-3 hal itu, disebut sebagai bingkai kesuksesan. Setiap pribadi bisa mencapai puncak kesuksesannya kalau setiap kita bisa mengkombinasikan tiga hal itu. Kemudian kemampuan di bidang pendidikan dan keterampilan itu disebut hard skill. Sedangkan attitude disebut soft skill.

Lalu bagaimana pengertian definitif itu dibawa ke dunia kerja? Di dunia kerja, nyatanya membutuhkan dua kemampuan itu. Dunia kerja mensyaratkan kita untuk memiliki pengetahuan-pengetahuan yang mungkin sebelumnya tidak dimiliki. Karena itu, setiap pribadi harus belajar dan belajar. Belajar itu punya 3 hal; yaitu proses, materi, dan ada target yang harus dikerjakan. Disamping itu harus terus berlatih untuk mengasah keterampilan.

Selain faktor teknis seperti itu, dunia kerja juga membutuhkan faktor non teknis (soft skill). Pertanyaan terbesarnya; berapa perbandingan antara hard skill dan soft skill? Ini yang selalu diperdebatkan. Dan perbandingan yang fair, antara hard skill dan soft skill berbanding 50:50. Perinciannya bisa jadi, knowledge 25, skill 25, dan attitude 50.

Soft skill sendiri terbagi menjadi dua; intrapersonal skill dan interpersonal skill. Intrapersonal skill itu keterampilan yang berhubungan dengan cara kita mengatur dan mengolah diri-sendiri. Contoh, orang-orang yang memiliki goal life, tujuan akhir, memiliki stress management dalam hidup, adaptive dengan berbagai persoalan, dan semacamnya.

Sedangkan interpersonal skill, berkaitan dengan keterampilan mengelola orang lain. Bagaimana mengatur, menjadi leader, mengelola pekerjaan, dan menerapkan itu dalam organisasi di mana dia bekerja.

Lalu bagaimana mencari dan menemukan orang-orang dengan soft skill yang bagus? Sebenarnya alat ukurnya sudah ditemukan. Kalau dulu alat ukur yang digunakan adalah IQ (intellectual quotient). Setelah itu ditemukan parameter EQ (emotional guotient) yang bisa dibuat untuk mengukur seberapa besar soft skill seseorang.

Begitu juga kepribadian kini sudah bisa diukur. Sudah banyak tools yang dikembangkan, antara lain personality assesment. Sebenarnya tool personality assesment ini bukan semata mengukur. Tool ini untuk mencari dan menemukan siapakah sesungguhnya kita. Biasanya, dengan tool ini akan diperoleh gambaran kepribadian seseorang. Pertama, temperamen. Ini merupakan sifat dasar orang, hampir tidak pernah berubah (heredity, life experience, believing). Kedua, graphic caracter. Karakter itu menunjukkan siapa diri kita, ketika kita sedang tertekan. Bisa jadi temperamen seseorang baikbaik saja dalam kondisi normal, tapi begitu berada pada kondisi tertekan, bisa berubah menjadi sangat temperamen.

Mengenali karakter seperti ini, sungguh penting bagi sebuah perusahaan yang akan merekrut tenaga baru. Sehingga, kebutuhan mengenali dan meningkatkan, baik hard skill maupun soft skill, bukan semata untuk keperluan tiap individu, tapi amat penting juga bagi perusahaan. Hendak mendelegasikan sebuah tugas tertentu, harus dikenali lebih dulu karakter orang yang akan ditugasinya. Kirakira begini: jangan memberikan tanggung jawab kepada seseorang dengan kepribadian graphic caracter. Berbahaya untuk kelancaran sebuah proyek.

kirim komentar