• Majalah SCG
Kelana Kota / Kamis, 28/03/2013 12:05 WIB
Menjaga Kualitas Produk

Sebuah produk dikatakan berkualitas atau tidak, bisa dilihat dari beberapa sisi. Kalau dari sisi pemasar, produk dikatakan berkualitas kalau disukai konsumen, yang menjadi target pasarnya. Kalau dari manufaktur atau produknya sendiri, dikatakan berkualitas kalau produk itu memenuhi spesifikasi yang dijanjikan oleh manufakturnya.

Seperti produk handphone yang memiliki spesifikasi tertentu yang diunggulkan produsen. Atau produk komputer, dan sebagainya. Nah ketika spesifikasi produk itu sesuai dengan yang didisplay, boleh dikata produk itu berkualitas.

Nah, konsumen yang rasional biasanya lebih suka berpatokan pada spesifikasi produk. Apalagi untuk produk-produk yang sangat mempengaruhi kesehatannya, misalnya, produk pangan. Mereka akan dengan teliti memperhatikan bagaimana ingredientsnya, apa bahan yang digunakan, dan seterusnya.

Tapi ada juga konsumen yang melihat kualitas justru dipengaruhi oleh strategi marketingnya. Persepsi yang dibangun adalah produk mahal, kualitasnya pasti baik. Tapi sebenarnya tidak selalu demikian.

Agar kualitas produk itu dikatakan berkualitas, perusahaan biasanya butuh lembaga penjamin kualitas, seperti adanya ISO, yang secara kelembagaan memang independen dalam menetapkan aspek kualitas atau tidaknya suatu produk. Kalau di lembaga pendidikan, seperti adanya BAN (Badan Akreditasi Nasional), dan semacamnya.

Persoalan kualitas ini sesungguhnya bukan hanya persoalan produksi saja. Misalnya adanya bagian QC (quality control) di divisi produksi. Maksudnya, kualitas bukan semata menjadi tanggung jawab QC atau produksi. Bagian sebagian perusahaan, kualitas adalah menjadi tanggung jawab semua komponen perusahaan. Karena itu kemudian ada dikenal istilah total quality management.

Jadi konsep bahwa pengawasan dan pengendalian kualitas itu, mulai dari pemasok hingga pelanggan. Maka di situ ada dokumen mutu yang jelas, bahkan bukan hanya produknya, tapi juga sampai pelayanannya. Tiap tahapan dimana produk itu dibuat, memiliki SOP yang tegas, sehingga produk yang dihasilkan bisa dipertanggungjawabkan mutu atau kualitasnya. Dan memang harapannya, perusahaan itu bisa meminimalisir zero defect (produk yang rusak).

Kalau berbicara kualitas, hampir sama dengan tubuh kita. Kita mau mencegah atau mengobati. Kalau mau mencegah artinya harus mampu menjaga pengendalian kualitas sebelum produk itu dipasarkan. Ketika produk itu sudah di lempar ke pasar, perusahaan menyertakan garansi dan menyediakan service center untuk mengobati produk-produk yang rusak. Cara mengobati kekecewaan konsumen dengan pola garansi seperti itu juga termasuk upaya menjaga kualitas.

Menjaga kualitas itu penting karena; pertama, bisa menekan biaya. Misalnya, kalau produk yang dihasilkan baik, tidak perlu melakukan pekerjaan ulang terhadap produk yang sama. Kedua, tentu bisa mencegah timbulnya kekecewaan konsumen karena produk rusak, misalnya. Kalau konsumen kecewa akan merobohkan reputasi perusahaan tentunya.

Kalau sudah terbiasa dengan kinerja kualitas terkontrol sedemikian rupa, akan menambah kualifikasi perusahaan kita bila mau berpartner dengan perusahaan besar lainnya. Sebab, perusahaan besar apalagi multinasional, sangat memperhatikan mutu. Kalau mutu produk kita baik, kita akan siap berpartner dengan siapa saja dari perusahaan bonafit lainnya.

Bahkan perusahaan yang mementingkan kualitas, pada saat mendisain sebuah produk itu saja sudah dipersiapkan dengan matang, mulai survey pasar, disain produk yang disukai target pasar, dan spesifikasi yang sesuai keinginan pasar.

Untuk itu, elemen yang paling dulu harus sibuk mempersiapkan dan mempertahankan kualitas produk adalah top manajemen. Kemudian adanya tim pengendali kualitas menjadi layer penting lainnya. Dan biasanya ada gugus-gugus di dalam setiap departemen. Gugus ini bukan hanya mengontrol produk, tapi juga problem solver bagi sebuah departemen atau marketing.

Bagaimana resep menjaga kualitas produk agar senantiasa tampil bagus, baca selengkapnya di majalah Surabaya City Guide (SCG) edisi April 2013.

kirim komentar