• Majalah SCG
  • Majalah SCG
Rona Kota / Sabtu, 27/04/2013 14:00 WIB
Minuman Bersoda, Persepsi dan Fakta

Coca-cola Indonesia, Jumat (26/04), menggelar diskusi bersama wartawan dari beberapa media di Surabaya. Menghadirkan Prof. Made Astawan, pakar Teknologi Pangan dan Ahli Gizi, mengupas lebih dalam tentang minuman bersoda, persepsi, dan fakta ilmiah seputarnya. Coca-cola yang pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1927, dan diproduksi secara lokal pertama kali pada tahun 1932 itu, menilai penting untuk menjelaskan dan memperluas wawasan masyarakat, melalui media, tetang pentingnya informasi seputar makanan dan minuman yang tepat, dan teruji berlandaskan riset ilmu pengetahuan.

“Untuk menjawab keraguan tentang makanan atau minuman, sebaiknya menggunakan rujukan atau acuan standar mutu yang ditetapkan oleh instansi berwenang, dalam hal ini Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM),’ tegas Made, dalam paparannya. Menurutnya, masyarakat juga harus jelas, apa itu minuman bersoda/ berkarbonasi? Pada kesempatan yang sama juga dipaparkan fakta-fakta ilmiah untuk menjawab ragam persepsi yang selama ini beredar di masyarakat.

Gas alami CO2 yang dimasukkan ke dalam minuman bersoda, secara alami karbonasinya akan hilang ketika tutup botol dibuka, diiringi suara “nyees” dan gelembung. Yang unik menurut Made, karbonasi yang tertelan bahkan tidak sampai ke lambung, karena gas karbon dioksida pada minuman bersoda terlepas ke udara. Dan tubuh manusia juga mempunyai reaksi alami dalam mengeluarkan gas dalam tubuh, yaitu dengan sendawa.

Sebagai bentuk kepedulian, Coca-cola Indonesia sejak awal tahun 2013 ini meluncurkan website untuk menjadi rujukan dengan informasi yang tepat, teruji, dan scientific based, seputar minuman. Seperti tentang hidrasi, nutrisi, energi seimbang, bahan baku minuman, dan lainnya. www.beverageinstituteindonesia.org, dapat menjadi rujukan ilmiah bagi masyarakat tetang produk minuman yang mampu menjadi bagian dari hidup sehat.

kirim komentar