Majalah SCG
Suroboyoan / Senin, 08/04/2013 11:55 WIB Surabaya Peduli Anak Ria Enes

Kota memang menjanjikan harapan kesuksesan karir dan materi. Tapi bagaimana dengan keluarga, terutama jika dikaitkan dengan pendidikan dan pengasuhan anak. Sepintas pendidikan di kota tampak lebih bagus dan maju. Tapi mari kita mengingat kehidupan tradisional di desa yang hangat, sehat, segar dan pendidikan yang benar benar sadar pada tujuannya. Yaitu kesadaran itu sendiri. Bukankah tujuan pendidikan itu membuat manusia sadar ?

Sarana dan prasarana dikota sangat memadai, tapi anehnya kita justru takut anakanak kita terperosok dalam pemanfaatannya. Kemudahan akses komunikasi kadang malah membuat kita kehilangan komunikasi dengan anak-anak. Ironisnya kadang orangtuanya ‘gaptek’ sehingga tak bisa memantau ‘curhat’ mereka lewat jejaring sosial.
Sedangkan pada anak usia dini atau balita ada kerepotan tersendiri. Yaitu memilih sekolah atau pengasuhan bagi anak yang masih kecil. Terlebih jika kedua orangtuanya bekerja, saudara atau orang terdekat sangat penting keberadaannya. Apakah itu nenek atau kakek, famili, atau pembantu.

Ada yang sejak awal sudah memilih TPA (Tempat Penitipan Anak). Yang paling penting adalah kepercayaan kita pada lembaga tersebut. Kita perlu mengenal guru atau pengasuhnya. Program yang ditawarkan, pola pendekatan atau hubungan guru dengan murid dan walimurid. Pendidikan anak usia dini, sangat menekankan pada membangun karakter dan cara penyampaiannya melalui bermain. Karena bermain adalah cara pembelajaran yang paling efektif buat anak-anak.
Bagi sekolah atau TPA yang mengerti tentang hal ini, APE atau alat permainan edukatif, tak akan pernah ketinggalan jaman atau tergerus arus modern. Sekali lagi, banyak yang terjebak hanya melihat modernitas dengan fasilitas kemajuan teknologi. Sehingga yang terkesan kuno, ditinggalkan. Anak-anak tetaplah jiwa atau pribadi yang butuh berkembang sesuai dengan segenap potensi yang Tuhan berikan.

Ketika anak-anak dalam kesehariannya hanya memegang ipad atau jenis gadget yang lain, potensi yang lain tidak tergali. Misalnya tangan mungil mereka tak lagi bisa merasakan permukaan yang lembut, kasarnya kulit pohon, butiran pasir, busa dan lain-lain. Mereka harus mengenal alam dan sekitarnya dengan segenap potensinya.
Nah bukankah permainan semacam ini ada disekitar kita? Menurut saya sekarang ini justru kita harus melirik kembali pendidikan yang bersifat tradisional. Ada hubungan dan komunikasi yang hangat. Di Dunia Suzan, pun sangat menjaga hal-hal yang sifatnya tradisional. Karena pendidikan anak usia dini harus kuat di fondasi atau hulunya. Istilahnya kalau di hulunya sudah benar dan kuat, maka sampai hilir anak-anak akan matang dan siap menghadapi kehidupan yang lebih luas lagi. Saya pribadi tidak merasa perlu takut dengan masa depan anak-anak sejauh kita mengerti pendidikan yang benar untuk mereka.
Apapun tantangan jamannya, pendidikan tradisional akan terus hidup dan yang akan menghidupkan jiwa anak anak kita yang tak pernah mati.

*) Owner Dunia Suzan