• Majalah SCG
Ternyata / Jumat, 05/04/2013 16:49 WIB
Pegon, Pengantin Gaya Suroboyo

Gaya pengantin Pegon, mungkin hampir tidak pernah terdengar bagi masyarakat umum. Gaungnya masih kalah jauh dengan gaya pengantin Solo, Jogya, Sunda bahkan Barat. Busana pengantinnya memang sedikit berbeda dari pengantin tradisional yang selama ini dikenal. Tidak heran jika sepintas kesan yang tertangkap, busana pengantin perempuannya mirip seperti nonik-nonik Belanda. Sedang laki-lakinya mengenakan busana Timur Tengah lengkap dengan sorban.

Keunikan pengantin Pegon, merupakan simbol dari pengembangan budaya bangsa,  di mana tata rias dan busananya gabungan dari pengaruh beberapa etnik yang berdomisili di sekitar Peneleh, Boto Putih, Blauran, Kenjeran, Petemon dan daerah pinggiran Surabaya lainnya. Yaitu Arab, Cina, Belanda dan Jawa.

Paduan budaya dapat dilihat pada rias busana pengantin pria diambil dari budaya Arab, yaitu memakai Jubah dan Sorban. Sedangkan busana Jawa memakai rok panjang dan slayer mengikuti budaya Barat dan Cina. Jamang (mahkota, Red) diambil dari budaya Jawa, dan bahan sutra diambil dari budaya Cina. Soal asal muasal kata Pegon ternyata tidak jelas artinya namun menurut beberapa literatur kata Pegon digunakan untuk menyebut naskah lama Jawa dalam tulisan Arab Melayu. NING WAR, seorang penggali tradisi Pegon, juga tidak dapat menjelaskan artinya. Namun menurut wanita berusia 80 tahun ini, sebutan Pegon muncul dari masyarakat pesisir yang menyebut paduan unsur budaya seperti Surabaya, Madura, China dan Belanda. Salah satu budaya Belanda terlihat dari pakaian pengantin putri yang mengenakan long dress mirip seperti pakaian pengantin Eropa.

"Model pengantin ini sudah ada sejak jaman leluhur saya," tutur Ning War yang terlihat masih gesit.  Meskipun ada penambahan atau modifikasi disana-sini tapi ada beberapa hal yang tidak boleh dirubah. Seperti hiasan kepala harus dipenuhi bunga segar dan rambutnya tidak boleh kelihatan. Warna busananya, berwarna putih, putih tulang dan kuning gading. Model terdiri dari dua potong yaitu blus atasan dan rok bawahan model lipit atau tanpa lipit, menggunakan sutra China. Gaunnya sepanjang sebetis tidak boleh pendek, lengan panjang tanpa maset dan bentuknya ramping. "Ada beberapa hal yang tidak boleh dirubah karena ada filosofinya," tegasnya.

Seperti  jamang atau hiasan kepala yang berjumlah dua belas, tujuh sunduk pentul menghadap depan dan lima kebelakang. "Artinya setiap manusia harus menghadapi kejadian dimasa datang dan harus berhati-hati atau mawas diri dengan keadaan dibelakang," terangnya. Sedangkan sabuk melati yang diselempangkan pada mempelai pria didepan terdapat tiga kembang ceplok, dan dua dibagian belakang. "Ini tidak ada maksudnya, hanya untuk variasi saja," jawab Ning War.

Dalam sejarahnya Pegon mengalami perubahan disana-sini, mempengaruhi gaya pengantin Pegon, baik upacara, pemilihan gaun, maupun riasan. "Dulu pengantin laki-laki tidak dirias, sebab dipegang oleh perempuan saja tidak mau, sekarang tidak masalah sebab tujuannya  supaya tidak kelihatan jelek," lanjutnya sambil tertawa. "Pengantin Suroboyo-an ini merupakan kekayaan adiluhung patut dilestarikan, Meskipun corak dan gayanya berbeda, hakikatnya mempunyai tujuan sama dan mulia. Baik pengantin Solo atau Jogya maupun yang lain mempunyai kelebihan dan harus dilestarikan," harapnya.
 

kirim komentar