• Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
Kuliner / Senin, 03/02/2014 12:14 WIB
Sate Komo, Tak Kenal Jemu

Percayalah, keunikan itupun tak kan sirna, bahkan ketika hidangan Sate Komo sudah siap di depan mata. Bentuknya yang unik, gemuk nan memikat, berbeda dengan sate-sate kebanyakan. Tidak sampai di situ, tunggu sampai daging bakar itu sampai ke gigitan dan mulai dinikmati.

Nama KOMO, sebenarnya berasal dari para pembeli sendiri. Sama sekali bukan dari pemilik. Konon, ekspresi pembeli yang takjub melihat ukuran sate yang besar, tidak seperti kebanyakan. Kemudian muncul celetukan “Komo” yang bersinonim dengan istilah besar atau jumbo. Tidak hanya besar, tetapi dagingnya juga empuk, dan matang hingga bagian dalam.

Bagi masyarakat Kota Mojokerto nama sate Komo sudah tidak asing. Bahkan mereka sangat tahu, di jam-jam kapan harus datang bila berhasrat menikmati sate ini. Warung Sate Pecel Jamil buka setiap hari, mulai jam delapan pagi.

“Bukanya jam 8, tapi tutupnya kadang jam 11, kadang jam 12. Kami tutup begitu sate habis,” terang Pardi, 58 tahun, sang pemilik. Beberapa pelanggan kerap kecewa memang, begitu datang menjumpai sate sudah ludes terjual. Tapi begitulah kenyataannya, dan kebanyakan mereka maklum, dan biasanya kembali keesokan harinya.

Mulanya warung ini milik orang tua Pak. Jamil, yang tidak lain adalah ayah dari Djamilawati, istri Pardi. Ketika masih dipegang Pak. Jamil masih berupa gerobak sate ala kadarnya, berjualan di trotoar pinggir jalan. Tak terasa bisnis keluarga ini sudah bertahan hingga generasi ke-3.

Setelah berpindah tangan, dilanjutkan oleh Pardi dan istrinya, berusaha untuk berkembang. Siasatnya dengan merubah dari rombong menjadi warung yang lebih permanen. Selain itu mempertahankan rasa dan menjaga kebersihan.

Seiring waktu, usaha pengembangan bisnis kian menunjukkan hasil. “Bila dulu kami hanya menghabiskan 6 Kg daging, sekarang bisa mencapai 30-35 Kg daging,” ungkapnya. Walaupun sudah berkembang pesat, tetap berusaha mempertahankan ukuran dan rasa satenya. Itu pula yang menjadikan sate Komo kian kesohor. Dan hanya ada di pojok alun-alun Mojokerto.

Kini walaupun tidak ditulis nama sate Komo di depan warung, tapi nama sate Komo sudah kadung merebak seantero Mojokerto, dan daerah-daerah sekitarnya. Tidak tampak nama atau penanda dari warung tersebut memang. Ketika dikonfirmasi kepada Pardi, menurutnya; “Biar orang makin penasaran mencarinya,” sergahnya, diiringi tawa ringan.

Lebih lengkap, silahkan baca laporannya di Majalah SCG edisi Pebruari 2014, atau bisa juga dinikmati melalui gadget Anda melalui versi e-magz di SCG Online. (Foto-foto: A. Kusnanto/M-Comm)

kirim komentar