• Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
Kuliner / Sabtu, 12/10/2013 13:12 WIB
Rela Antri demi Kikil Kambing Istimewa

Masih dalam suasana Idul Adha, kurang lengkap rasanya kalau lebaran haji tahun ini tidak mencicipi Kikil Kambing Istimewa Haji Subchi. Terletak di jalan Simolawang, warung tenda bongkar muat ini menempati lahan, tepat di depan pagar tembok rumah nomer 1. Adalah Abdul Jawat yang memulai membuka warung Kikil Kambing ini pada 1966. Selanjutnya secara temurun, sajian yang semakin diminati ini dikelola anaknya, Haji Subchi mulai tahun 1975. Hingga sekarang, nama Haji Subchi masih digunakan, walaupun sejak 10 tahun terakhir, pengelolanya sudah ditangani oleh Abah Su’eb, yang tidak lain adalah adik kandung dari Haji Subchi.

“Kita tetap memakai nama Kikil Kambing Istimewa Haji Subchi, karena nama itu yang sudah terkenal dan dicari sampai saat ini” ungkap Abah Su’eb ditengah sibuknya melayani pembeli yang sampai rela mengantri. Warung pinggir jalan yang sangat sederhana ini hanya terdiri dari tiga meja panjang dengan tak lebih 30 kursi. Tapi setiap saat tak pernah sepi, bahkan banyak yang rela mengantri berdiri demi mencoba seporsi Kikil Kambing.

Porsi kikil kambing ini, secara penampilan kuahnya bening seperti sup yang mengundang kesegaran. Namun sekali seruput saja, kentalnya bumbu sangat terasa aroma karinya. Taburan melimpah daun koja juga menambah selera, dan wanginya semakin menggugah rasa untuk segera menggigit dagingnya.  Untuk menambah kesegarannya, jangan lupa tambahkan perasan jeruk nipis merata diantara kuahnya. Plus sambel  bagi yang suka pedas.

Sekarang giliran mencoba dagingnya. Penampilan segarnya kaki kambing masih terjaga tekstur dan bentuk aslinya. Terlihat dagingnya tidak hancur, masih menempel sempurna diantara tulang. Tapi soal keempukannya, jangan lagi ditanya. Sekali sendok sudah bisa terpotong dengan mudah. Rasa kenyalnya semakin gurih karena bumbunya yang meresap sampai ke dalam daging.

“Cara masaknya juga harus diperhatikan agar dagingnya bisa empuk, tapi tetap tidak lepas dari tulangnya.  Dagingnya juga jangan sampai hancur” ujar Abah Su’eb. “Butuh waktu sekitar 3 jam untuk merebus kikil hingga bumbunya meresap” lanjutnya. Sebelumnya, kaki kambil dicuci dan dihilangkan bulu-bulunya sampai benar-benar bersih. Barulah dimasukkan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, ketumbar, merica, sere, daun jeruk, dan daun salam koja.
Meski dagingnya ngeprul, paling leko makan kikil ini dengan tangan kosong alias langsung hap ke mulut pakai tangan, sambil sesekali menyesap sumsum yang tersembunyi dibalik tulang dengkul. Jangan kawatir belepotan, karena kobokan air hangat sudah disiapkan. Ini supaya kenikmatan menyantap kikil tidak terganggu, karena rasa pliket di tangan dan mulut bisa langsung diseka.

Seporsi sop kikil kambing dipatok harga antara 30-33ribu. 30ribu untuk porsi campur dengkul dan bagian kaki bawah. 33ribu untuk yang spesial bagian dengkul saja. Harga itu belum termasuk kalau ingin menyantapnya dengan nasi. Nasi per porsi hanya dikenakan tambahan 3.000. Kikil Kambing Istimewa Haji Subchi buka setiap hari dari pukul 18.00 sampai pukul 21.00. “Tapi tidak selalu habis jam segitu, yang sering jam 8 sudah tinggal sedikit” ujar Abah Su’eb. Padahal tiap hari tak kurang 80 ekor kambing diolahnya menjadi sajian istimewa ini. Kikil Kambing ini tidak membuka cabang, jadi kalau ingin merasakan sensai kenyal gurihnya, ya harus datang langsung ke jalan Simolawang. Selamat mengantri…
 

kirim komentar