• Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
Khas Surabaya / Kamis, 02/01/2014 14:46 WIB
6 Franchise Kuliner Surabaya

Tapi benarkah bisnis waralaba sedemikian mudah dan murah? Bisnis model franchise memang telah menjadi trendsetter dan warna baru dalam dunia usaha. Berkembang pesatnya bisnis model ini, membawa angin baru yang membahagiakan. Franchise bisa memicu jiwa enterpreneur masyarakat, memperluas wawasan masyarakat terkait proses memulai dan menjalankan suatu usaha, terbukanya lapangan kerja baru, dan peluang bagi setiap orang memiliki bisnis sendiri. Bisnis franchise tumbuh bergairah, mewabah, sekaligus menjadi entrepreneur dreamland karena ada sedemikian banyak peluang usaha dari berbagai jenis usaha.

Di Surabaya pun banyak bermunculan bisnis franchise yang dibidani oleh orang Surabaya asli. Dan banyak brand franchise kuliner asli Surabaya yang telah menasional dengan jumlah gerai mencapai ratusan tempat. Untuk menyebut beberapa diantaranya; Kebab Turki Baba Rafi, Tosoto, Coffee Toffee, Rabek, dan banyak lagi lainnya.

Surabaya pun menjadi kota tergairah setelah Jakarta dalam ajang expo franchise yang kerap diadakan bergiliran di kota-kota besar di Indonesia. Pada event National Road Show Franchise & Business Concept Expo 2009, misalnya, yang digelar selama tiga hari di lima kota besar di Indonesia termasuk Surabaya, faktanya sanggup mencatat sukses luar biasa. Pengunjungnya mencapai lebih dari 4 ribu orang, diikuti 55 perusahaan, dengan total transaksi sebesar Rp 120 miliar.

Hasil ini, ternyata menjadikan Surabaya berada di urutan kedua setelah Jakarta (Rp 150miliar/80 peserta), kemudian disusul Yogyakarta (Rp 82miliar/43 peserta), dan Bandung (Rp 77 miliar/50 peserta). Fantastis!

Sego Njamoer
Ide makanan nasi kepal berisi jamur putih yang ditumis dengan bumbu khusus, ternyata mampu mencuri minat orang. Nasi itu kemudian diberi nama Sego Njamoer oleh beberapa pemuda asal Surabaya. Sejak 2010, panganan yang terinspirasi oleh onogiri asal Jepang itu, ternyata cukup diminati kalangan muda.

"Saya pakai jamur putih yang ditumis dengan bumbu rahasia racikan saya," ungkap Rizky Aris Yunianto, salah pendiri Sego Njamoer. Bentuk sego Njamoer laiknya onogiri, tapi ukurannya lebih besar, diameternya sekitar 15 sentimeter.

Harganya yang terjangkau, antara Rp 3.500-Rp 4.000 per porsi, menjadikan makanan ini cepat populer di kalangan mahasiswa. Ada banyak mahasiswa yang tertarik untuk membuka cabang di daerah masing-masing. Dega pun kian tergelitik dan setahun kemudian ia membuka peluang kemitraan Sego Njamoer.

Soto Tosoto
Soto Madura Wawan muncul setelah warung soto lain menancapkan image yang kuat di Surabaya. Betapa Wawan Sugianto, pemilik warung Soto Madura Wawan dan Tosoto, pernah merasa kalah bersaing dengan warung-warung soto ternama sebelumnya. Namun, tekadnya yang kuat membuat brand yang dibuatnya mampu tampil lebih elegan dan terpercaya.

Nama Tosoto sebenarnya bermula dari ledekan orang di lingkungan sekitar. sebutan itu biasanya diteriakkan penjual soto keliling, dari gang ke gang. Namun karena dianggap unik, Wawan justru serta-merta menjadikannya brand.

Dim Sum Choie
Dim Sum, makanan khas China ini, sekarang bukan lagi hanya makanan kelas resto mahal di hotel atau mall. Dim Sum Choie, misalnya, berani merubah kesan mahal Dim Sum menjadi makanan yang juga dapat dinikmati di pedagang kaki lima, tanpa mengurangi kenikmatannya.

“Selama ini Dim Sum imagenya hanya dapat dinikmati di restoran mahal di hotel ataupun mall. Tapi kami membuat terobosan dengan menghadirkan dim sum ala pedagang kaki lima,” kata Dewi Damayanti, owner Dim Sum Choie.

RaBek (Raja Bebek)
Warung Rabek memulai usahanya di Bangkalan, Madura. Saat itu, ada beberapa orang yang menawari kerjasama untuk membuka warung di Jakarta dan Surabaya. Setelah dibuka di Surabaya, April 2012, Rabek menjadi franchise yang berhasil mencuri minat tiga orang di Surabaya dan Malang.

Franchise Rabek dipasarkan dengan harga Rp 367 juta. ”Franchise fee Rp 50 juta selama 5 tahun. Bahan baku awal termasuk bumbu dan sebagainya Rp 10 juta. Sisanya untuk interior dan eksterior, biaya training dan sistem," terang Andika Arief Ramadhani, pemilik waralaba Rabek.

Coffee Zone
Harum semerbak bisnis kopi terus membius banyak pelaku usaha untuk mencicipi manisnya laba dari menyeduh secangkir kopi. Pemain di bisnis kedai kopi sekarang ini yang semakin banyak, menggambarkan betapa usaha kedai kopi senantiasa menjanjikan.

Seperti kedai Coffee Zone, milik Siti Sahara yang mencoba menyajikan minuman kopi menggunakan metode seduh dari berbagai Negara seperti Jepang, Prancis, Vietnam, atau Italia.


Coffee Toffee
Menu kopi yang disediakan bagi penikmat kopi sungguh dipilih dari kopi pilihan yang tumbuh di tanah negeri ini. Kalau kemudian café shop ini mampu berkembang hingga seratusan lebih gerai di tanah air, tentu menggoda perhatian.

Coffee Toffee memulai kegiatan bisnisnya sejak tahun 2006. Usaha ini adalah menjual minuman berbahan dasar kopi, coklat, dan teh. Kopi yang disuguhkan dari biji kopi kualitas terbaik di kelasnya, biji kopi yang digunakan oleh Coffee Toffee adalah campuran antara biji kopi Java-Mocha dan Toraja Kalosi yang sudah terkenal akan kekuatan rasa dan aromanya. Coffee Toffee memberikan sebuah cara baru untuk menikmati secangkir kopi favorit Anda.

Laporan lengkap seputar franchise kuliner asli Surabaya, bisa dibaca di Majalah SCG, edisi Januari 2014. Atau bisa pula dengan mengakses versi e-magz di website kami www.surabayacityguide.co.id . (Foto-foto: Ist)

kirim komentar