• Majalah SCG
Kelana Kota / Senin, 14/04/2014 12:57 WIB
Personal Branding Untuk Tingkatkan Kinerja

Personal branding kini lagi tren terkait pencitraan. Bagaimana karyawan, secara individu, bisa mencitrakan dirinya dan kemudian ditangkap secara positif oleh lingkungan atau komunitas di mana dia berada. Personal branding yang dilakukan dengan bagus, kata Iman N Bayoeadji, Komisaris Human In Partner (HIP) dan Dosen di beberapa Perguruan Tinggi saat talkshow Inspirasi Solusi di Suara Surabaya (01/03), bisa berimplikasi lebih luas, tidak hanya menyangkut si individu tetapi juga terhadap lembaga, institusi, atau perusahaan. Implikasi terhadap perusahaan ini tampaknya belum banyak disadari.

Personal branding berkembang sesuai perkembangan di tengah masyarakat. Dulu, seseorang merasa sangat bangga menjadi bagian dari sebuah perusahaan yang dianggap sukses. Tetapi pada perkembangannya, banyak perusahaan yang dengan pendekatan berbeda; strenght base atau lebih fokus pada kelebihan atau kekuatan dari karyawannya, akhirnya perusahaan memberikan kesempatan agar karyawan nantinya banyak dikenal dan kesuksesannya terasosiasikan terhadap perusahaannya.

Bisa jadi mula-mula si karyawan akan terangkat brand perusahaannya, namun pada akhirnya dengan orang-orang yang kuat, perusahaan akan ikut terangkat namanya. Nah, perusahaan besar di dunia lebih mengenal orang per orang yang kuat namanya setiap kali perusahaannya disebut. Ini efek dari brand personal yang kini tengah berkembang di dunia.

Alhasil, orang akan merasa bangga dengan pimpinan, perusahaan, dan kemudian dia akan makin menguatkan dirinya. Dari situ kemudian tumbuh orang-orang yang peduli dengan personal branding, dalam pemahaman yang positif tentunya.

Di Indonesia, konsep personal branding ini belum tumbuh subur. Yang muncul hanyalah letupan ketika seseorang sudah tidak bekerja lagi pada sebuah perusahaan yang membesarkan namanya. Personal branding di negeri ini masih sebatas referensi bahwa dia jebolan perusahaan A atau B.

Sebenarnya, personal branding ini akan sangat bagus bila dijalankan bersama-sama tanpa pretensi apapun. Perusahaan nantinya tidak hanya terkenal dengan sistemnya, produknya, layanannya, tetapi termasuk orang-orang yang menjalankan semua itu di perusahaan. Kalau personal branding orang-orang yang menjalankan itu kuat, perusahaan akan mendapatkan kepercayaan lebih dari biasanya. Tentu saja, dalam persoanal branding, adalah pembuktian. Konsistensi.

Lantas bagaimana membangun personal branding agar makin banyak keuntungan yang didapat, baik secara individu maupun perusahaan.

Pertama, perlu memahami kekuatan diri. Kedua, perlunya perusahaan konsen mendukung pribadi-pribadi/karyawan yang berusaha menemukan kekuatan diri. Dua hal ini harus saling mendukung untuk menumbuhkan kekuatan baru yang disebut personal branding ini.

Untuk menumbuhkan keinginan personal branding ini, perlu dilakukan beberapa langkah. Langkah awal, seseorang atau si karyawan harus diajak. Langkah ini perlu karena dalam hukum komunitas, seseorang lebih mudah diajak melakukan sesuatu, yang berlaku adalah pemahaman komunitas. Kalau menyangkut perusahaan, yang disebut komunitas ya perusahaan itu. Di perusahaan, yang menjadi representasinya adalah pimpinan-pimpinannya. Kalau perusahaan tidak care, artinya sebagai pimpinan turut bertanggung jawab. Kalau sampai tidak bisa menciptakan kebanggaan, artinya jiwa korpsnya tidak dimunculkan, tidak akan mungkin muncul kebanggaan itu.

Personal branding juga berkaitan dengan skill setnya, serangkaian kemampuan. Kalau serangkaian kemampuan ini dibangun, hasil produknya akan menjadi bagus. Good and servicesnya akan exellence. Hal ini di banyak perusahaan besar, sudah menjadi konsen corporate branding.

Antara personal branding dan corporate branding, akan menghasilkan kekuatan yang dahsyat bila dibangun berkeselarasan. Hal itu tidak hanya akan membawa perusahaan bertahan, tapi sustain. Kondisi sustain ini yang harus terus-menerus dibangun oleh perusahaan.

Membangun kedua hal itu, perlu dilakukan secara sistematis, dengan penuh kesadaran. Tidak bisa hanya dengan by accident. Artinya, ada kemauan dari perusahaan untuk menumbuhkan kekuatan-kekuatan yang dimiliki individu karyawan yang mendukungnya. Metode ini jauh lebih mudah direalisasikan karena ada sistem yang memang dirancang dengan sadar untuk membangunnya.

Seluruh kekuatan unik yang dimiliki individu karyawan berusaha difasilitasi untuk mencapai titik puncaknya, yang sejalan dengan tujuan perusahaan. Dengan demikian, nantinya perusahaan akan mendapatkan keuntungan karena didukung oleh orang-orang yang kapabel di bidangnya, baik mareka yang spesialis maupun generalis.

kirim komentar