• Majalah SCG
Kelana Kota / Senin, 03/02/2014 12:55 WIB
Motivasi Baru di Tahun Baru

Selamat tahun baru, Kawan.

Di tahun baru, kebanyakan orang atau karyawan menancapkan resolusi-resolusi baru untuk kesuksesan ke depan. Tapi sebagian lagi ada yang semangatnya masih hangat-hangat kuku. Titik berangkatnya mungkin bisa jadi tidak sama. Tapi apapun yang terjadi, kata Rachmat Hidayat, Managing Partner Rachpro Consulting, saat berbincang dalam program Inspirasi Solusi di Suara Surabaya (04/01),  paradigma dan mindset dalam menjalani tahun 2014, itu yang harus dibangun terlebih dahulu.

Cara pandang orang atau karyawan ke depan, amat menentukan bagaimana kinerja yang mesti dibangun di tahun baru ini. Peneguhan mindset atau paradigma, target yang ingin diraih, dan kendala atau tantangan yang hendak disingkirkan, amat tergantung dari persepsi dan pola yang dianut. Sehingga, kalau berbicara tentang motivasi apa yang mesti diberikan, tidaklah sama kepada setiap orang. Apalagi dikaitkan dengan komitmen, makin berbeda lagi.

Namun demikian, motivasi di awal tahun senantiasa diperlukan untuk kembali menyamakan langkah menuju capaian-capaian ke depan. Motivasi sebenarnya bermakna dorongan dari tiap individu. Dorongan itu bisa dari dalam maupun dari luar diri. Dorongan dari dalam muncul karena individu ingin meraih target dan kesuksesan tertentu.

Sedangkan dorongan dari luar, sebagaimana banyak dialami karyawan, dipengaruhi oleh rencana dan target perusahaan yang ingin dicapai di tahun depan. Rencana dan target itu kemudian disosialisasikan dalam bentuk kerja-kerja dan aktivitas yeng mesti dilakukan demi mencapai harapan perusahaan.

Sumber dorongan itu akan memiliki daya tahan yang kuat bila tumbuh dari dalam diri individu, bukan dari orang lain. Adanya kerja-kerja baru yang diberikan oleh perusahaan, kerapkali menjadi beban bagi karyawan. Bukan menjadikannya sebagai tantangan untuk menguji keseriusan dalam memenuhi target-target di masa depan.

Padahal, dengan pekerjaan baru, karyawan memiliki kesempatan untuk menunjukkan kualifikasi diri, pengalaman baru dan keterampilan baru sebagai pengayaan diri. Kalau kita berhasil melakukannya dengan baik, portofolio individu kita akan makin bertambah. Ketika portofolio diri kian meningkat, lalu ada kesempatan untuk posisi-posisi strategis, maka dialah yang akan berpeluang besar untuk dipilih. Syaratnya, si individu menerimanya sebagai tantangan dan ikhlas menjalankan. Kalau dia menerimanya sebagai beban, dia akan melakukannya asal-asalan yang tentu hasilnya tidak akan maksimal. Peluang untuk posisi penting, tidak akan mampir kepadanya.

Setelah itu, yang terpenting adalah konsistensi tiap individu dalam memegang komitmen. Seseorang itu disebut berkomitmen bila ia memegang motivasi secara konsisten sampai tuntas. Jangan sampai hanya bersemangat di awal-awal saja, setelah itu mengendur lagi. Mereka yang mampu menjaga ritme dorongan motivasinya hingga tuntas, itulah orang atau karyawan yang memiliki integritas dan berkomitmen yang sesungguhnya.

kirim komentar