• Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
Komunitas / Rabu, 04/12/2013 11:21 WIB
Lomo, Gitu Loh!

Lomographic Society Surabaya, yang berdiri sejak dua tahun silam, menjadi wadah bagi mereka penggemar seni melukis dengan cahaya menggunakan kamera jenis Lomo. Berbeda dengan dunia fotografi pada umumnya, penggemar lomografi di Surabaya memang tidak begitu banyak. Setidaknya demikian yang disampaikan Aghastyo Ghalis Soetowo, 22 tahun, salah koordinator Lomographic Society Surabaya.

Tak lebih dari 20 orang penggemar Lomo yang bergabung dalam komunitas ini, namun hanya separuhnya saja yang tercatat sangat aktif dalam beberapa kegiatan. Kelompok hobi yang berangkat dari inisiatif tiga orang, Ghalis, Edo, dan Gloria, dari mulanya menebar jala untuk menarik banyak penghobi Lomo bergabung dalam komunitas ini. ”Mengajak siapa saja, meskipun mereka tidak tahu bahkan tidak kenal sekalipun,” kisah Ghalis, pada Surabaya City Guide ketika di temui di selasar Balai Pemuda Surabaya, ketika itu.

Menurut Ghalis, satu dari sekian hal yang menyenangkan memotret menggunakan kamera Lomo adalah kebebasannya dalam berekspresi. ”Don’t think, just shoot!” tegas mahasiswa Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, ini. Memotret menggunakan kamera unik yang menggunakan film berformat 135 atau 120 itu, selain menarik, mudah, juga menantang. Menarik, karena hasil jepretannya yang sangat variatif tergantung distorsi dari masing-masing kamera. Mudah sudah jelas, tidak perlu repot mengatur fokus, diafragma, speed dan sebagainya. Tinggal jepret dan tunggu hasilnya. Agak terbuka untuk ruang eksplorasi bagi sang fotografer, biasanya perlakuan pada film untuk menghasilkan gambar eksperimental. ”Ada yang merendam film negatifnya ke cairan teh sebelum dipakai. Ada menggunakannya dengan terbalik, bagian sensitifnya di depan. Dan banyak lagi yang lain,” papar Ghalis. Ini bagian yang menantang dari memotret dengan kamera Lomo.

Tidak salah, bila ada yang menyebut memotret dengan Lomo juga tergantung pada feel sang fotografer. Lomografi kabarnya berkembang menjadi gaya hidup, fenomenanya bergerak meninggalkan aturan-aturan baku dalam fotografi. Teknik dalam Lomo begitu bebas, dan hasilnya sangat subyektif. ”Hasil jepretan tak pernah bisa diduga,” imbuhnya. Bila teknik fotografi mampu menghasilkan foto yang bagus, maka lomografi dapat menghasilkan foto yang unik.

Sejauh ini, mereka yang tergabung dalam Lomographic Society Surabaya masih dominan mahasiswa. Walau mereka yang masih duduk di bangku SMA dan mereka yang sudah bekerja juga ada. Untuk aktivitas, sudah banyak yang mereka lakukan, hunting bersama hingga ke luar kota. Mulai dari Solo, Jogja, hingga Bandung, juga di tempat-tempat tertentu seperti pasar, atau momentun-momentum khusus seperti tahun baru.

Dalam pameran lomografi beberapa waktu lalu, kawan-kawan Lomographic Society Surabaya menyusun serangkaian foto lomografi menjadi suatu objek tertentu ke dalam suatu media, yang disebut lomowall. Seperti yang dipamerkan pada ajang SoundVersity di Royal Plasa Surabaya. Lomographic Society Surabaya menampilkan karya–karya lomografi menyerupai karakter Bung Tomo.

Lomographic Society Surabaya berusah terus eksis, walau dalam aktualisasinya lebih kerap tampil bersama komunitas-komunitas lain, seperti musik, grafis, film, dan lainnya. Acap terbersit dalam pikiran mereka, dapat kiranya hadir dalam suatu ajang pameran tunggal yang menawan. Namun aral belum juga mampu disibak. Tak patah arang, jalinan sinergitas bersama komunitas lain terus dibangun. Ini pula yang menjadi asa, soliditas antar komunitas youth culture dan berkreasi semata demi mengangkat nama Surabaya.

kirim komentar