• Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
Khas Surabaya / Selasa, 20/08/2013 15:37 WIB
Jejak 5 Pahlawan Surabaya

Semangat juang dan kepahlawanan mereka melekat sebagai jatidiri Surabaya dari dulu, hingga kini dan sampai nanti.
Kota Surabaya mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan. Menjadi istimewa, karena hanya Surabaya saja yang mendapatkannya. Banyak kota lain di negeri ini yang memiliki sejarah kepahlawanan tak kalah hebat dari Surabaya. Namun julukan sebagai Kota Pahlawan hanya untuk Surabaya.
Beberapa nama dan peninggalannya yang masih bisa ditemukan oleh Surabaya City Guide, di antaranya sejarah rumah WR. Soepratman, rumah lahir Bung Karno, Grdung Nasional Indonesia (GNI) simbol dari Bapak Pergerakan Indonesia, Dr. Raden Soetomo, rumah HOS Cokroaminoto. Dan sebuah kampung bersejarah bernama Kalimas Udik, di sini tinggal KH. Mas Mansur, seorang tokoh islam dan pahlawan nasional Indonesia.

 

Sejarah Pergerakan di Bubutan
Perjuangan putra bangsa bisa dikenang mulai dari Bubutan. Menerawang sejarah dari bangunan yang tersisa. Gedung Nasional Indonesia (GNI) Surabaya masih berdiri tegar di jalan Bubutan. Tak jauh dari Tugu Pahlawan dan Jembatan Merah, yang juga merupakan simbol perjuangan. Bangunan GNI ini juga menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa ini. Berdiri di jantung kota, menjadi sentra pergerakan pemuda di masa perjuangan. Pemerintah Kota Surabaya meresmikan gedung ini sebagai Cagar Budaya kota.
Dalam komplek gedung terdapat makam Bapak Pergerakan Nasional Indonesia, Dr. Raden Soetomo, yang hidup sepanjang 1888-1938.
Sekilas sejarah tentang perjuangan dan peran gedung yang berada di jalan Bubutan ini. Pada tahun 1938, gerakan perjuangan rakyat terpelajar di Surabaya berpusat di GNI ini. Selain Soetomo, tokoh yang populer saat itu adalah RPSoenario Gondokoesoemo, RMH Soejono, R. Soendjoto, dan Achmad Djais. Sebagai pusat perjuangan, GNI yang dikomandoi Soetomo kerap berkomunikasi dengan Soekarno di Bandung dan Husni Thamrin di Jakarta. Tiga tokoh ini kemudian populer dengan sebutan Tri Tunggal.
Selain pendapa, di komplek GNI juga berdiri gedung, yang pada jaman dahulu dijadikan sebagai barak BKR (Badan Ketahanan Rakyat), kini berfungsi sebagai kantor PMI Cabang Bubutan. Dan rumah-rumah yang kini masih berdiri di jalan Bubutan Kulon, konon dikgunakan Soetomo untuk menampung warga yang tidak mampu pada tahun 1930 –an.

Jejak Soekarno di Surabaya
Nama Soekarno sebagai Bapak Bangsa, sudah jamak dikenal. Dalam catatan sejarah, Soekarno pun meninggalkan jejak perjuangannya di Surabaya. Beliau sempat menetap di Surabaya, indekos atau lebih dikenal dengan istilah mondok di rumah milik HOS. Cokroaminoto. Rumah tersebut hingga kini masih berdiri, tepatnya di Jalan Peneleh VII/29-31.
Pada bangunan yang resmi dijadikan sebagai bangunan cagar budaya itu, sangat kental aksen bangunan peninggalam masa lalu. Dinding tebal, kusen pintu dan jendela yang terkesan kokoh, belum lagi bila melongok ke ruangan luas berlantai kayu yang berada di lantai dua yang konon kerap digunakan Soekarno dalam menimba ilmu dari HOS Cokroaminoto.
Dalam kaitan Soekarno dan Surabaya, ada yang menyebutkan Pemimpin Revolusi itu lahir di Kota Surabaya. Diyakini rumah di Jalan Pandean Gang 4 no. 40 adalah rumah lahir Soekarno. Walau untuk membuktikan kebenarannya masih butuh waktu.

Rumah Sejarah HOS Cokroaminoto
Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau HOS Cokroaminoto dikenal sebagai tokoh nasional dan populer sebagai Pemimpin Sarekat Islam yaitu organisasi politik pertama di negeri ini. Secara pribadi peran Cokroaminoto bagi berdirinya negeri ini, sangat berpengaruh. Beliau adalah guru dari beberapa tokoh pergerakan di negeri ini. Sebut saja, Soekarno, Kartosuwirjo, Semaoen, Muso, Alimin, dan banyak lagi.
Sekilas tetang bangunan bersejarah peninggalan Cokroaminoto, setelah beberapa kali berganti kepemilikan, akhirnya rumah di jalan Peneleh Gang III itu menjadi miliknya. Rumah ini tak hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, namun oleh Cokroaminoto dan istri dijadikan rumah indekos bagi para pelajar Hogere Burgerlijks School (HBS). Dalam perjalanannya rumah ini juga berfungsi menjadi pondok pesantren kecil. Dan mereka tidak sekedar belajar ilmu agama, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpolitik.
Di rumah ini juga tersimpan berbagai koleksi barang-barang antik peninggalan Cokroaminoto. Beberapa masih utuh, beberapa lainnya sudah diduplikasi, karena lapuk dimakan jaman.

Kenangan WR. Supratman
Sebuah rumah yang berdiri di Jalan Mangga No. 21, Kelurahan Tambaksari, satu di antaranya. Di sinilah seorang Wage Rudolf Supratman pernah tinggal. Rumah yang kini difungsikan sebagai museum mini oleh para ahli warisnya, kini dikelola oleh Lembaga Pengkajian "Kota Pahlawan." Di rumah ini pula, konon Supratman menjadi lebih produktif dalam mencipta lagu-lagu. Walaupun penciptaannya kala itu masih berdasar pesanan dari beberpa rekan seperjuangan, seperti Dr. Soetomo dan Pak. Doho.
Kabarnya, di rumah ini pula menjadi saksi dari aksi akhir proses penciptaan lagu terakhirnya yang baru tergores sebagai syair yang berjudul 'Selamat Tinggal'. Lembaran kertas itu menjadi sisa sejarah yang masih tersimpan rapi. Sayang, Biola kebanggaan Supratman tidak bisa dijumpai di sini, konon disimpan di Museum Sumpah Pemuda, di Jakarta.
Peran WR. Supratman dalam perjuangan kebangsaan Indonesia Raya mencapai kemerdekaan, semua orang tahu. bukan sekedar pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sebagai tokoh pemuda pergerakan Supratman sangat aktif terlibat pada fase perjuangan pergerakan, terutama ketika dia pindah ke Batavia, sekarang Jakarta.

Tokoh Islam KH. Mas Mansyur
Mungkin belum banyak yang tahu, tentang peninggalan kediaman KH. Mas Mansyur. Seorang tokoh Islam, pahlawan nasional, dan mantan ketua pengurus besar Muhammadiyah. Kampung Kalimas Udik, adalah kawasan yang sangat kental dengan suasana religi Islami. Pengakuan Suciati, sumber Majalah SCG, menyebutkan bahwa bangunan rumah di depan kediamannya itu adalah rumah tinggal KH. Mas Mansyur. Barang-barang peninggalan Mas Mansyur, seperti buku, foto-foto, dan lainnya, sayangnya sudah tidak diketahui.
Adanya pondok pesantren dan kedua rumah kuno itu merupakan bukti cukup sebagai jejak kehidupan Mas Mansyur di Surabaya. Konon, Soekarno sering mendatangi rumah beliau, untuk kemudian berziarah bersama ke makam Sunan Ampel. Mas Mansyur mengenal Soekarno muda saat bersama-sama mengikuti tabligh di daerah Peneleh oleh KH. Ahmad Dahlan.
Mas Mansyur adalah satu dari empat orang tokoh nasional yang diperhitungkan, yang terkenal dengan sebutan Empat Serangkai. Yaitu; Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH. Mas Mansyur.

Lebih lengkap ulasan tentang peninggalan sejarah para pejuang di Surabaya itu, bisa dibaca di Majalah SCG edisi Agustus 2013. atau  dengan mengakses e-magz yang ada di halaman muka website ini.

kirim komentar