Majalah SCG
Suroboyoan / Rabu, 07/08/2013 11:28 WIB Pendidikan yang Merenda Sejarah Oleh : Suparto Brata *)

Coba tanyakan kepada anakanak muda: apa yang ia tahu tentang bangunan peninggalan para tokoh pahlawan di Surabaya. Kalau menemui jawaban yang aneh, maka coba tanyakan pada model pendidikan kita.

 

Apa yang bisa dibanggakan dengan keberadaan bangunan peninggalan para tokoh pahlawan masa lalu? Ada rumah HOS Cokroaminoto, kamar indekos Soekarno, makam dr. Soetomo, rumah WR Soepratman, dan lainnya, paling tidak masih ada fisiknya yang bisa dikunjungi. Tapi bagaimana keberadaannya sekarang?

Secara fisik bangunan-bangunan peninggalan yang langsung berkaitan dengan eksistensi para pahlawan itu, tidak bisa dibilang membanggakan tapi tidak juga mengenaskan. Setidaknya masih ada yang merawat dan beberapa orang mengunjunginya. Tapi hanya itu.

Bila dilihat secara ideal, semua itu justru telah hilang maknanya. Peradaban modern sudah merenggutnya secara semena-mena. Semua sekarang serba kapitalis. Asal menguntungkan bisa jalan, bila tidak ya mandeg nasibnya.

Padahal, ada banyak pihak yang memiliki kepedulian terhadap bangunanbangunan bersejarah itu. Pemerintah kota Surabaya juga peduli terhadap nasib bangunan fisik dan perawatannya, ada Tim Cagar Budaya, ada pula komunitas RoodeBrug Soerabaia. Namun, di hadapan peradaban kapitalis, pihak-pihak tersebut pun tak mampu mengimbangi.

Fakta ini akan lebih memprihatinkan lagi bila dikaitkan dengan kepedulian anakanak muda masa kini. Anak-anak sekarang kan tidak membaca sejarah. Mereka tidak tahu, bahwa ternyata dekat di sekelilingnya ada bangunan yang menyimpan nilai sejarah agung, dan sebagainya. Kondisi anak-anak muda kita, bagai memindah pohon tanpa akar. Bayangkan saja, bagaimana nasib masa depan kepada anakanak muda yang tidak membaca dan menulis?

Pendidikan kita tidak mengajarkan anakanak kita membaca dan menulis seperti dulu. Anak-anak sekarang sudah dijejali dengan model pendidikan yang kacau balau. Sehingga, jangan heran bila generasi sekarang lebih suka yang instan dan mudah. Padahal, bukankah cara dan peradaban demikian sama dengan peradaban primitif?

 

*) Sastrawan berbahasa Jawa, pemilik nama samaran Peni dan Eling Jatmiko, dan tiga kali menerima penghargaan Hadiah Sastra Rancage, tinggal di Rungkut Surabaya.