• Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
Komunitas / Jumat, 02/08/2013 15:58 WIB
Komunitas Roode Brug Soerabaia

Keprihatinan akan identitas kotanya, memiliki makna yang dalam bagi sebagian warga kota ini. Sebut saja bagi komunitas Roode Brug Soerabaia, salah satunya. Alasan prihatin itu pula yang memotivasi lahirnya komunitas ini. Mereka prihatin karena identitas Kota Pahlawan perlahan memudar. Sekira tahun 2010, Ady Elianto Setiawan dan Bagus Kamajaya menginisiasi berdirinya komunitas yang ingin lebih perhatian pada catatan perjalanan hidup sejarah Kota Surabaya.

Dalam catatan mereka di dalam media sosial menyebutkan; Roode Brug juga merupakan forum komunikasi antar komunitas, antar masyarakat ataupun antar lembaga. Yang saling bersinergi satu sama lain dalam melestarikan segala sesuatu yang menjadi catatan perjalanan kehidupan sejarah kota Surabaya. Mulai dari era kolonial (tempo doeloe) hingga era jaman dulu (jadul-sekira 1990 –an), termasuk sisik melik (dinamika pernak-pernik kehidupan) yang terdapat di dalamnya.
Sasaran idealnya, roode brug hadir untuk mengedukasi, berbagi kenangan (bernostalgia), mengguyubkan antar masyarakat dengan cara kreatif dan menyenangkan.

“Komunitas yang kini mempunyai anggota aktif sekira 30 orang ini, cukup giat meletakkan perhatiannya pada peninggalan-peninggalan di era peperangan melawan penjajah,” tegas Ady Elianto Setiawan, pendiri Roode Brug Soerabaia, kepada Majalah SCG.. Aktivitas terakhir, ketika mereka berinisiatif menguak sebuah bukti pertempuran besar yang terjadi di kota ini. Benteng Kedung Cowek, yang semula tertutup vegetasi, yang berada di kawasan tertutup untuk dikunjungi. Coba mereka bersihkan, dan menguak wujud aslinya.

Lokasinya tak jauh dari Jembatan Suramadu. Tapi jarang sekali orang tahu bahwa di sana terletak bekas gudang amunisi, yang juga menjadi benteng pertahanan tentara Jepang, dan pertahanan pasukan Sriwijaya dalam menghadapi serangan Inggris di Surabaya.

“Ketika Jepang menyerah, benteng-benteng tersebut rupanya masih utuh,” tukas Ady. Sejumlah meriam besar terlindungi oleh beton yang tebal dan kokoh. Semula senjata-senjata ini dimaksudkan untuk menghadapi kapal musuh yang mendekati pelabuhan dan pantai Surabaya. Dimungkinkan, Belanda pun tak sempat menembakkan satu peluru pun pada waktu pasukan Matahari Terbit itu menyerang, dan kemudian menduduki wilayah jajahan Belanda, termasuk Pulau Jawa.

Selain menjadi wadah komunitas pecinta sejarah, Roode brug Soerabaia juga tanda mata Kota Pahlawan yang membawa visi dan misi untuk mempertahankan eksistensi predikat Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Dalam mencapai tujuan ini, Roode brug Soerabaia juga aktif melakukan kegiatan-kegiatan nyata di lapangan yang didukung oleh komunitas-komunitas ataupun individu-individu yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sejarah kota Surabaya. Sebut saja beberapa kegiatan teatrikal dalam beberapa peringatan Hari Pahlawan. Juga terlibat dalam beberapa proyek pembuatan film-film dokumenter pendek. Mengumpulkan setiap lembar catatan dan dokumentasi, hingga berharap kelak mampu melahirkan buku tetang wajah perjuangan Kota Pahlawan.

Beberapa info menarik lainnya tentang komunitas ini, lengkap tersaji di Majalah SCG edisi Agustus 2013. Bisa pula diakses tulisan lainnya versi e-magz di halaman muka website ini. (Foto: Ist)

kirim komentar