• Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
Khas Surabaya / Kamis, 02/05/2013 16:38 WIB
12 Spot Wisata Kalimas

Siapa yang tidak tahu Sungai Kalimas. Sungai yang membujur dari Utara ke Selatan membelah Kota Pahlawan ini panjangnya sekira 19 kilometer. Berpangkal di pintu air Wonokromo dan bermuara di Selat Madura. Bila di jaman dahulu peran dan fungsi sungai Kalimas begitu vital, bagaimana dengan kondisi kekinian? Surabaya City Guide (SCG) mencoba jelajah Sungai Kalimas, menyelisik titik-titik menarik yang ada di sepanjang bibirnya.

Jembatan Bungkuk Ngagel
Walau bentuknya cukup eksotis, dan masih kuat tersirat kenangan masa lalunya, namun tidak banyak referensi yang bisa didapat mengenai jembatan yang menghubungakan perkampungan Darmokali dengan kawasan Ngagel di seberangnya. Jembatan yang dijepit dua pipa besar milik PDAM ini berangka besi dengan geladak berbahan kayu.  Sangat berbeda dengan jembatan-jembatan yang ada sekarang, dengan usia pembuatan lebih mudah, yang terbuat dari bahan beton cor. Konon, ada yang menyebut jembatan Bungkuk ini dibangun pada era penjajahan Jepang, untuk keperluan transportasi. Hingga kini manfaat itu masih tetap terjaga, dan dipelihara karena kemanfaatannya bagi masyarakat sekitar.

Taman Irian Barat
Taman baru di Jl Irian Barat ini dulunya dijadikan tempat berjualan. Keberadaan pasar ini kerap macet, mengganggu kelancaran jalan, dan membuat pemandangan kurang indah.  Berdiri sudah lebih dari satu tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Nopember 2011.Setiap hari kita dapat melihat gelak tawa dan sorak semangat yang diserukan oleh anak-anak muda yang berkumpul. Laki-laki dan perempuan tua muda berkumpul, meskipun yang tua-tua hanya menonton. Tontonan yang asyik setiap sore untuk sekedar melepas lelah, karena di tempat itu disediakan tebing yang dapat dipanjat. Disediakan tempat untuk berlatih panjat tebing (climbing).

Pasar Kayoon (Pasar Bunga)
Terletak di Jalan Kayoon, dekat dengan aliran sungai Kalimas. Kawasan ini dikenal sebagai pasar bunga. Mulai dari  bunga segar, dekorasi, rangkaian bunga, rangkaian bunga papan. Di sebelah Selatan pasar bunga dapat di nikmati berbagai makanan khas Jawa Timur sedangkan di sebelah Utara pasar bunga kayoon di jual akuarium beserta peralatannya serta beberapa aneka ikan hias. Berjalan-jalan di lokasi ini sangat menarik karena kita bisa  menyusuri obyek yang menarik di sepanjang Sungai Kalimas.

Jembatan Gubeng
Mengikuti arus aliran sungai yang mengarah ke Utara, akhirnya akan sampai di Jalan Pemuda. Tak jauh dari Monumen Kapal Selam, akan mendapatkan jembatan dengan arsitektur jaman kolonial. Jembatan Gubeng, awalnya pada jaman kolonial Belanda bernama Goebeng Brug. Usianya kini mungkin sudah lebih dari 100 tahun. Jembatan ini menyeberangi sungai Kalimas, tepat di depan Stasiun Gubeng, lurus mengarah ke Jalan Pemuda, atau dikenal dengan kawasan Simpang pada jaman dahulu. Ada keunikan juga pada jembatan yang sangat eksotis bertabur hias lampu di malam hari ini. Jembatan ini dibangun sekira tahun 1900. Konon, konstruksi jembatan ini awalnya dibuat dari bambu dan kayu, bukan dari dinding batu atau cor seperti yang tampak sekarang. Kemudian jembatan ini dibongkar dan dibangun lagi dengan menggunakan struktur besi, sekira tahun 1924.

Monkasel (Monumen Kapal Selam)
Monumen Kapal Selam, lebih dikenal dengan Monkasel, berdiri gagah di bibir Kalimas Surabaya. Menebar aura perkasa, sama tegarnya ketika dulu masih bertugas dalam jajaran alutsista TNI Angkatan Laut RI. Menghormati peran dan pengabdiannya, sekaligus meneruskan kisah sejarah dari generasi ke generasi. KRI Pasopati 410, dipajang sebagai monumen sekaligus menjadi destinasi wisata kota dan pembelajaran bagi masyarakat kota. Kini Monkasel sangat populer sebagai ikon dan destinasi wisata kota Surabaya. Di setiap Minggu dan libur sekolah selalu ramai dikunjungi, terutama anak-anak baik yang berasal dari sekolah-sekolah TK dan SD, maupun mereka yang datang bersama keluarga. “Kami sengaja di awal menyasar pengunjung anak-anak. Selain untuk media belajar, kami yakin kalau anak-anak yang datang pasti bersama orang tuanya,” terang Irpan Harianja, Manager Monkasel.

BMX & SKATE Arena
Selain menjadi wahana muda untuk ajang BMX dan Skateboard, BMX & SKATE ARENA kini menjadi ikon baru yang juga cocok sebagai tempat wisata warga kota. Arena ini menarik, karena lokasinya di pusat kota dan sangat strategis. Selain itu letaknya juga bersebelahan dengan Monumen Kapal Selam (MONKASEL), dan sangat dekat dengan Plaza Surabaya serta WTC Surabaya. Melengkapi keindahan wahana ini, juga terdapat patung Suro dan Boyo dengan ornamen berbentuk sulur-sulur, yang berada persis di bibir sungai Kalimas. Kabarnya, pembangunan patung itu merupakan wujud dari realisasi program CSR PT. Telkom Jawa Timur, sementara BMX & SKATE ARENA dibangun dengan anggaran APBD Kota Surabaya.

Taman Prestasi & Wisata Tirta Kalimas
Taman yang terletak di Jl Ketabangkali (belakang gedung Grahadi) ini merupakan taman yang dibangun sebagai peringatan atas keberhasilan Surabaya dalam meraih penghargaan Adipura Kencana dari pemerintah. Taman ini sekaligus berfungsi sebagai paru-paru kota dan tempat rekreasi keluarga. Ada jogging track, tempat menunggang kuda, arena bermain anak-anak, wisata air, panggung terbuka serta penjual makanan dan minuman.
Taman Prestasi kini diset up terbuka, sehingga warga kota bisa menikmatinya dengan mudah dan gratis. Di kawasan ini juga kerap digunakan studi lapangan atau berbagai kegiatan anak-anak sekolahan di Surabaya.

Taman Ekspresi
Memasuki area taman ini, Anda akan disambut patung instalasi berbagai bentuk, sebagai penegasan tema taman ini. Sesuai namanya, taman ini diharapkan sebagai tempat mengekspresikan kegiatan keseniaan di Surabaya.  Patung instalasi lainya berdiri berjajar di pinggir sungai kalimas. Untuk mendukung tema itu, di taman ini dibangun plaza kecil, sebagai panggung terbuka. Selain itu, Anda akan menjumpai banyak tempat duduk unik bertebaran di dalam taman, dalam beragam warna dan bentuk. Ada bentuk kotak, huruf vokal dan sebagainya. Anak-anak kecil bisa belajar mengenal huruf vokal di taman kota ini. Karena lokasi taman di bantaran sungai kalimas (depan kantor departemen pendidikan, Gentengkali), sepanjang taman dibangun seperti balkon menghadap sungai. Kita pun bisa menikmati sungai Kalimas dan beragam aktifitas di dalamnya. Taman ini juga dilengkapi dengan taman baca.

Taman Jayengrono
Tepat berada di depan Jembatan Merah Plaza, diresmikan pada 31-12-2012 oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Nama taman ini di ambil dari nama bupati pertama di Surabaya, Jayengrono. Taman yang dibangun di atas lahan seluas 5.300 meter persegi tersebut memiliki beberapa elemen yang mengandung filosofi tersendiri. Sesuai namanya, Spot Mallaby ini merupakan lokasi tewasnya Brigjend A.W.S Mallaby dalam peristiwa baku tembak yang terjadi pada 30 Oktober 1945. Berikutnya ada Selasar Perjuangan, dengan dinding-dinding di sisi kiri dan kanan. Di sini dapat dijumpai cerita ataupun ornamentasi sejarah berupa relief-relief. Tak ketinggalan elemen bambu runcing sebagai simbol alat perjuangan arek-arek Suroboyo. Pada taman ini dipasang kelompok tonggak bambu runcing yang ditempatkan di 3 area berbeda. Masing-masing berjumlah 10 buah, 11 buah dan 45 buah. Bilangan tersebut merepresentasi tanggal 10 Nopember 1945.

 

Kampung Kalimas
Memasuki kawasan Utara Surabaya ada kawasan yang dekat dengan aliran sungai Kalimas. Kampung ini bernama Kalimas Udik. Terletak di sebelah Barat jalan KH Mas Mansyur atau tak lebih dari satu kilometer perjalanan dari Ampel. Gang-gang kecil diantara tembok arsitektur kolonial menggugah romansa masa silam saat kawasan ini juga menjadi pusat perdagangan.  Kawasan ini cukup menarik, karena bangunan lama masih bisa dinikmati. Memang tak semua bangunan tua bertahan keasliannya, beberapa diantaranya telah direnovasi.  Di Kalimas Udik ini , masih ada  bekas rumah KH Mas Mansyur.  Dikenal sebagai seorang Kiai yang berfikiran progresif, kaya akan gagasan, dan berani berijtihad. Ia bukan hanyadikenal sebagai mujtahid, tetapi juga sebagai ulama penggalang persatuan antara ulama tradisional dan ulama reformismodernis.

Jembatan Petekan
Untuk menghubungkan kulon kali dan wetan kali, dibuatlah jembatan ophaalbrug (jembatan angkat) atau disebut petekan. Disebut Petekan karena untuk membuka-tutup jembatan dengan cara dipetek (jawa = pencet atau tekan). Dengan cara itu, kapal-kapal dagang berukuran besar yang akan bongkar muat di Gedong Banger (kini merupakan sekumpulan gudang di Jl Kalimas Hilir) tetap bisa lewat, sehingga arus lalu lintas dan perdagangan tetap lancar. Karena kondisi jembatan Petekan yang kemudian tidak berfungsi, dibangunlah jembatan beton di sisi kiri dan kanan untuk memperlancar transportasi yang melewati jembatan ini.

Pelabuhan Kalimas
Pelabuhan tradisional legendaris di Kota Surabaya ini, hingga sekarang masih digunakan sebagai tempat bongkar muat barang. Di sana ada kapal-kapal kayu, tongkang dan perahu. Dengan adanya kapal-kapal tradisional yang menjadi sarana transportasi perdagangan ini, pelabuhan Kalimas cukup menarik untuk dikunjungi. Dekat dengan pelabuhan ini ada sebuah jalan bernama Heeresentraat (antara Jl Rajawali dan Jl Kembang Jepun) yang dulu merupakan pusat bisnis bongkar muat. Di antara kedua jalan itu, ada jembatan yang membentang di atas Sungai Kalimas, yang disebut Roode Brug atau Jembatan Merah.
Lebih lengkap ulasan tentang 12 titik menarik sepanjang Kalimas, bisa diperoleh di Majalah Surabaya City Guide edisi Mei 2013. Bisa juga dengan mengakses e-magz kami di website ini.

kirim komentar