• Majalah SCG
Kelana Kota / Jumat, 26/07/2013 11:10 WIB
Mengeksplorasi Idle Capacity SDM

Setiap perusahaan pasti ingin terus meningkatkan produktivitas SDM. Sering dijumpai pada perusahaan ada SDM yang memiliki kapasitas yang tersimpan, tersembunyi, namun gagal untuk dimaksimalkan. Untuk itu, perlu adanya man power planning yang tepat agar pemaksimalan SDM itu bisa mendukung pencapaian tujuan perusahaan.

Dalam pengertian mengenai kapasitas, dikatakan Sigit Nugroho, Managing Partner dari Acatia Consultancy, pada talkshow Inspirasi Soulsi di radio SS, menjelaskan sebenarnya tidak ada kata idle untuk manusia. Karena kapasitas manusia, bila dikaitkan dengan sumber daya, berbeda dengan mesin. Kalau mesin, tidak dioperasikan ya berhenti. Dia benar-benar idle, tidak ngapa-ngapain. Artinya, potensinya ya sudah hanya sebegitu.

Nah, kalau manusia, rasanya tidak ada yang benar-benar menganggur, tidak beraktivitas apapun. Artinya, manusia itu diberikan karunia luar biasa oleh Tuhan untuk bisa dan mampu creat something. Karena itu ada pepatah pengacara (pengangguran banyak acara). Dalam kondisi menganggur pun, tetap bisa melakukan sesuatu. Jadi, tak ada manusia yang benar-benar tidak melakukan apapun atau idle.

Pertanyaannya, apakah acara yang dibikin para karyawan itu berkontribusi positif atau tidak terhadap perusahaan. Karena manusia pada dasarnya tidak pernah idle. Ia disebut idle bila secara potensi dan kompetensi tidak mampu memberikan kontribusi positif bagi perusahaan. Potensi terjeleknya, bila karyawan tidak bisa memberi kontribusi positif, biasanya dia berpotensi negatif.

Kapasitas yang tidak bisa dipergunakan oleh perusahaan atau terjadinya idle capacity ini tentu menjadi tanggung jawab manajemen perusahaan. Dari awal, man power planning tentang rencana kebutuhan SDM, menghitung beban pekerjaan, harus sudah dilakukan oleh manajemen perusahaan dengan tepat. Setelah itu, manajemen harus melakukan tahap development terhadap karyawan, melakukan peningkatan kapasitas, dan memberikan motivasi-motivasi.

Jadi, jika ada satu departemen sangat sibuk, sedangkan yang lain tidak sibuk, maka tidak serta terjadi ketimpangan di sebuah perusahaan. Apakah departemen yang sibuk tadi kesibukannya berkontribusi positif pada perusahaan atau tidak. Dan jika departemen yang lain terlihat tidak sibuk, jangan-jangan mereka sudah benar karena mampu mengatur waktu dan beban kerja dengan baik. Jadi harus dilihat dulu dengan saksama.

Tapi bila yang terjadi adalah ketidakseimbangan beban pekerjaan, maka menjadi tanggung jawab perusahaan untuk mengatur. Perusahaan harus mampu melihat dirinya di masa depan. Ini akan berhubungan dengan kebutuhan SDM seperti apakah di masa depan itu. Jangan sampai karyawan sudah direkrut, sudah inves banyak, ternyata kompetensi orang itu tidak bisa dipakai karena kondisinya berbeda. Pilihan terjeleknya cut off, bila dirasa perusahaan sudah merasa tidak bisa melakukan development terhadap karyawan tersebut.

Memelihara karyawan yang pintar, tapi tidak dikasih pekerjaan, bahayanya dua kali lipat. Dia akan menjadi ‘pengacara’ (pengangguran banyak acara). Persoalannya, acaranya tidak akan berkontribusi positif terhadap perusabahan. Inilah bahayanya.

Man power planning, salah satu faktor penting bahwa menghitung tenaga kerja dikomparasikan dengan bobot pekerjaan. Bobot pekerjaan dan strategi kebutuhan ini disesuaikan dengan arah dan strategi perusahaan kemana. Apakah mau berkembang secara vertikal ataukah horizontal. Secara vertikal artinya secara kuantitas bisnis berkembang menjadi lebih besar. Sedangkan secara horizontal itu perkembangan perusahaan menjadi lebih lebih luas, lebih banyak cabang, dan semacamnya. Dari sisi produk menjadi lebih banyak, dari hulu ke hilir misalnya.

 

kirim komentar