• Majalah SCG
  • Majalah SCG
  • Majalah SCG
Ternyata / Rabu, 07/05/2014 12:06 WIB
Arsitektur Asli Surabaya

Johan Silas, Pakar Permukiman dan Perkotaan, ITS Surabaya menjelaskan arsitektur jengki bisa menjadi satu penanda arsitektur Surabaya, "Arsitektur jengki adalah buah dari keinginan arsitek-arsitek Indonesia di era setelah kemerdekaan, agar Indonesia punya bangunan khas. Johan mencontohkan, salah satu bangunan yang masih menggunakan arsitektur jengki adalah Hotel Olympic."

Di Surabaya perkembangan pemukiman mengalami perubahan yang sangat signifikan. Mulai dari pemukiman bergaya arsitektur Asli Surabaya hingga pemukiman yang mengadopsi gaya Eropa. Pertanyaannya kemudian, seperti apakah arsitektur bangunan asli Kota yang kini dijuluki “Kota seribu taman” ini?.

Mengutip Suarasurabaya.net, setidaknya beberapa cirri arsitektur lama Surabaya sebagai berikut;

Mayoritas Terbuat Dari Kayu
Kayu sejak dahulu menjadi bahan utama pembuat bangunan seperti rumah dan bangunan gedung lainnya, selain waktu itu murah, kayu juga tahan lama. Saat ini bangunan dari kayu tak lagi menjadi pilihan sebab perawatannya mahal.

Atap Doro Kepak
Atap bergaya Doro Kepak ini dikenal sangat sederhana, gampang cara pembuatannya dan sangat murah. Atap ini juga bisa ditemui di beberapa tempat di Jawa Timur, karena memiliki lubang angin yang banyak dan sangat cocok untuk rumah berdinding rendah.

Tembok Rendah
Berbeda dengan rumah belanda, Rumah warga Surabaya jaman dulu, tidak berdinding tinggi. Rata-rata hanya sekitar 12 hingga 14 meter dan bangunan satu lantai.

Tanpa Pagar
Sama dengan watak Surabaya dan egaliter dan menjunjung kekerabatan, rumah warga Surabaya jaman dulu tidak pernah menggunakan pagar, cenderung berdekatan untuk menghindarkan jarak antara tetangga. Dengan beranda yang tidak terlalu besar, berbeda dengan rumah gaya portugis dan belanda yang memang memiliki beranda luas.

Perubahan jaman, ternyata berdampak pada eksistensi rumah-rumah bergaya Suroboyoan ini. Kini tidak banyak yang bisa ditemui rumah dengan wajah asli Surabaya. Sebagian yang tersisa ada disekitar jalan Peneleh, Bubutan dan sekitarnya, serta beberapa di Kampung Surabayan dan sekitar Sungai Kalimas. (Foto; A. Kusnanto/M-Comm)
 

kirim komentar