• Majalah SCG
Kelana Kota / Kamis, 27/06/2013 16:49 WIB
Mengenal Perilaku Konsumen Era Digital

Kemajuan di era digital saat ini, berdampak pada pola hidup masyarakat sebagai konsumen. Dulu orang membeli barang harus berangkat ke toko, sekarang makin dimudahkan dengan cara pembelian secara online. Tentu perubahan ini harus diantisipasi para pebisnis, agar bisa tetap menarik minat konsumen.

Dr Gancar Premananto, Ketua Prodi Magister Sains Management dari Fak Ekonomi dan Bisnis Unair, ketika menjadi narasumber pada talkshow Suara Surabaya dalam program Inspirasi Soulsi, menjelaskan karena setiap pebisnis membutuhkan konsumen, maka pemahaman terhadap mereka adalah hal yang sangat mendasar.

Pemahaman ini, kalau dalam perilaku konsumen, bukan hanya ketika mereka melakukan pembelian tapi sejak mereka memilih produk, menyeleksi produk, menggunakannya sampai mereka membuang barang itu. Kita harus mampu mempelajari itu. Kalau tidak bisa memahami mereka dengan baik, bagaimana kita bisa menjalin hubungan jangka panjang? Apalagi terjadi perubahan pada lingkungan yang membawa dampak pada perilaku.

Era digital yang membawa perubahan adalah era di mana perputaran informasi dan pengetahuan sangat tinggi. Sehingga, baik produsen maupun konsumen bisa memiliki informasi yang sama besarnya. Maka, kemajuan ini harus bisa dimanfaatkan untuk menjalin hubungan jangka panjang seperti yang dimaksud di atas. Bukan malah sebaliknya.

Sebenarnya di era apapun, konsumen memutuskan belanja sesuatu, ada yang memang diputuskan secara rasional, hati-hati, dan sistematis. Tapi ada juga yang lebih mengandalkan aspek emosional. Keputusan belanja bagi yang rasional, dilalui sesuai tahapan-tahapannya. Nah, pada tahap mengevaluasi untuk memilih mana yang akan diambil, di sinilah determinasi teknologi sangat mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan.

Informasi yang diakses konsumen bukan hanya dari media seperti tv, koran, internet, tapi juga dari sesama konsumen. Jadi komunikasinya semakin komplek, sehingga produsen harus lebih kreatif agar lebih diperhatikan konsumen. Itulah tantangannya, bagaimana bisa low budget high income bagi produsen.

Ketika konsumen telah menggunakan produk, produsen harus terus memantau dan mengevaluasi. Kalau sampai terjadi ketidakpuasan atau negative word of mouth pada konsumen, sekarang bisa langsung dishare ke internet, lewat jejaring sosial, misalnya, efeknya akan berlipat ganda. Kalau produsen tidak hati-hati, tidak mengikuti apa yang terjadi dengan produknya setelah dibeli konsumen, bisa berbahaya.

Nah, bila dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan yang rasional seperti ini, produsen harus melakukan banyak hal. Seperti bagaimana mampu memberikan informasi yang tepat, menarik, tapi efektif bagi konsumen. Dan, tak ketinggalan, bagaimana evaluasi pasca pembeliannya agar kalau terjadi negative worm tidak sampai tersebar luas di internet, tapi langsung ke pengaduan perusahaan.

Itu fenomena konsumen yang rasional. Sementara bagi konsumen yang memutuskan belanja atas pertimbangan emosional, perilakunya berbeda lagi. Ada konsumen yang membeli tanpa mikir-mikir dulu. Begitu melihat, senang, langsung ambil. Atau bisa jadi tergoda belanja karena ada hadiahnya, dan sebagainya. Untuk menciptakan konsumen yang demikian, lagi-lagi perlu disebarkan informasi yang menyentuh indera konsumen terdalam, sehingga keputusan membelinya tak lagi berdasar pertimbangan rasional.

kirim komentar