• Majalah SCG
Ternyata / Jumat, 01/02/2013 13:16 WIB
"Tunjungan" dari Taman Tunjung

Kembali ke abad pertengahan, melompati waktu walau hanya melalui catatan-catatan dalam buku. Mampu mempertebal ketahuan hingga kecintaan akan kekayaan negeri ini. Sebut saja kawasan Tunjungan Surabaya. Libatkan hayalan untuk mencium dan meraba bunga-bunga berwarna putih menghiasi taman Tunjung.

Dalam buku ’Surabaya Lintas & Langkah’ (1994), memaparkan masa lalu kawasan Tunjungan berdasar tinjauan sejarah Kota Surabaya pada abad pertengahan. Dimasa kepemimpinan Adipati Surabaya, yang kediamannya juga dikenal dengan sebutan Benteng Kraton.

Jaman itu sudah memiliki konsep penataan yang bagus. Adanya kaitan antara Kerajaan Surabaya dengan Kerajaan Majapahit, maka tidak heran bila dalam menentukan tata kotanya memperhatikan konsep tata kota Jawa. Demikian Prof. Johan Silas menyuratkan dalam buku yang khusus dipersembahkan untuk Surabaya itu.
Seperti banyak diketahui, dalam konsep tata kota dasar pemikirannya adalah kota itu ibarat rumah. Merupakan sesuatu yang hidup, sebab itu penyusunannya harus mengambil pola tubuh manusia dengan tata letaknya yang memperhatikan arah mata angin. Luar biasa!

Utara adalah letak kepala, jadi selalu resmi dan kebesaran. Selatan adalah letak kaki dan kelamin, maka bersifat kekeluargaan dan keturunan. Timur adalah arah matahari terbit dan tangan kanan. Hal ini bermakna kerja atau segala yang berhubungan dengan keduniawian. Barat adalah arah matahari terbenam atau tangan kiri, maknanya adalah kejiwaan rohaniah dan sakral. Sementara di tengah adalah tempat jantung, yaitu pusat kehidupan.

Kawasan Tunjungan berada di sebelah selatan kraton Surabaya. Sementara lokasi kraton sendiri diindikasi berada di wilayah yang dibatasi oleh Jalan Kramat Gantung dan Jalan Pahlawan. Bila di Utara kraton, masa itu, terdapat lapangan Kawatan (sekarang menjadi Kampung Kawatan, sebelah utara Bubutan) dan lapangan Kebon Rojo (komplek Tugu Pahlawan dan sekitarnya). Maka di sebelah selatan ada Tunjungan, dulu Taman Tunjung.

Asal kata Tunjungan adalah dari nama Tunjung atau bunga Teratai Putih. Kawasan ini masih termasuk kawasan elit Kraton Surabaya. Kawasan Tunjungan merupakan akses dari arah selatan untuk masuk ke kraton. Pada jaman itu keindahannya sudah diperhatikan. Bayangkan, konon, areal tersebut sudah ditata sebagai taman dengan hiasan bunga yang indah, yaitu Teratai Putih.

Menjadi jalur penting bagi tamu yang datang dari pedalaman. Tamu-tamu raja tentu bukan tamu sembarangan. Memanjakan mereka dengan taman yang indah yang merepresentasikan Surabaya itu sendiri. Bila kawasan Tunjungan dulu begitu indah, harusnya sekarang juga demikian. Banyak makna yang bisa dipilih dari kata ”indah”. Warga Surabaya sendiri yang bisa menentukan. Monggo...
 

kirim komentar